Senin, 08 Desember 2014

Konsep Etika Global

ETIKA GLOBAL; JALAN DIALOG MENUJU PERDAMAIAN DUNIA
(Tela’ah Atas Pemikiran Hans Kung)


A.    Latar Belakang
Sekarang ini fakta mengenai konflik, peperangan, diskriminasi dan ketidakdamaian masih menjadi isu utama yang dibicarakan oleh berbagai macam pihak. Fakta ini dibahas, diperdebatkan, dan didengungkan oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat, baik itu pemerintah, aktifis sosial, pemuka agama, bahkan kaum miskin dan orang-orang yang bahkan minim pendidikan secara formal. Perbincangan ini terjadi karena dampak dari konflik dirasakan oleh hampir seluruh ciptaan, dalam hal ini manusia, hewan, dan tumbuhan.
Globalisasi mengambil peran dalam kehidupan manusia. Masyarakat  didorong untuk masuk kedalam tatanan global yang tidak dipahami sepenuhnya oleh siapapun tetapi dampaknya dapat dirasakan oleh bumi dan seluruh penghuninya. Globalisasi merupakan fenomena “disini”, yang mempengaruhi aspek-aspek kehidupan manusia yang intim dan pribadi.[1]
Konflik, peperangan, dan kekerasan yang muncul dengan berbagai macam bentuk merugikan dan menyedihkan. Dan sejauh ini hanya menambah penderitaan bagi semua ciptaan yang tinggal di bumi. Dalam dua Perang Dunia kira-kira 600 juta manusia tewas[2]. Konflik Israel-Palestina yang belum terselesaikan walau sudah memakan banyak korban[3], dan di Indonesia peristiwa konflik Ambon dimana orang-orang Islam berhadapan dengan orang-orang Kristen menimbulkan korban yang cukup banyak.
Dalam setiap kehidupan masyarakat, terdapat orang yang berusaha berusaha berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan. Orang tidak hanya selalu mengikuti keinginannya begitu saja, akan tetapi juga mengetahui yang baik dan yang jahat. Akan tetapi terdapat kesulitan dari kehidupan demokratik pada masyarakat plural, jika tidak diperoleh konsensus bersama. Setidaknya untuk memungkinkan kelompok minoritas turut menyumbangkan perannya dalam kehidupan bersama. Maka dari itu dibutuhkan nilai, norma dan sikap bersama agar manusia bisa hidup bersama secara harmonis.
Untuk mencapai tujuan mulia itu diperlukan koalisi antara Yang Percaya (believers) dan Yang Tidak Percaya (non-believers). Bahkan diantara orang-orang yang kini cenderung menolak agama, ternyata masih hidup secara bermoral karena memiliki tanggung jawab bagi mereka sendiri dan juga bagi dunia. Karena itu orang harus dibebaskan untuk memiliki atau menolak agama dan harus ada koalisi minimum antara Yang Percaya dan Yang Tidak Percaya kepada Tuhan untuk bisa hidup bersama secara damai.
Maka dari itu, tujuan dari makalah ini yaitu berupaya menjelaskan konsep etika global dalam upaya menciptakan perdamaian dunia melalui jalan dialog antar agama.

BAB II
PEMBAHASAN

A.                Kebangkitan Agama 
Pada tahun 1980an, tidak lama setelah Revolusi Iran terjadi, bahasa yang kerap dipakai untuk menyebut kebangkitan agama di ruang publik adalah fundamentalisme. Agama  bukan saja hadir di ruang publik, namun juga efektif dalam peristiwa-peristiwa sosial politik. Pluralisme  merupakan persoalan bagaimana upaya akomodasi agama-agamdi  ruang publik    dirumuskan dengan tetap mempertahankan keragaman itu tanpa berusaha menyeragamkannya, ataupun meminggirkannya ke ruang privat.  Fundamentalisme adalah satu  wajah saja dari banyak wajah agama yang tampil di ruang publik. Maka fundamentalisme mungkin bukan lawan dari pluralisme melainkan satu  kenyataan yang tak bisa ditolak  yang menjadi bagian dari keragaman itu[4].
Kesadaran akan  kenyataan sosiologis kebangkitan agama-agama inilah  yang  mendasari tesis Samuel Huntington yang amat terkenal mengenai benturan peradaban. Disaat Huntington meramalkan benturan, Kung  percaya bahwa dialog  bisa  terjadi dan mencari jalan  untuk itu. Dengan pernyataan termasyhur yang mengaitkan dialog  antaragama dengan perdamaian itu, Kung menjadi salah  satu  ikon dialog. Selain dikenal sebagai sarjana pengkaji agama-agama, Kung juga penggiat perjumpaan antar agama melalui  dialog. Lebih jauh,  ia menggagas etika  global yang diharapkan menyatukan (bukan menyeragamkan) agama-agama melalui keprihatinan bersama. Dengan ini, dialog bukanlah persoalan teologis semata, tapi  sudah merambah dan  terlibat penuh dalam persoalan-persoalan sosial, ekonomi, politik  dunia.
Etika global  yang  digagas Kung  lahir  karena ada  tanggungjawab global  yang  diemban agama-agama. Perhatian Kung pada hubungan antaragama dan pentingnya dialog sebagai modus perjumpaan antaragama, maupun pemosisian agama dalam konteks luas kehidupan sosial, ekonomi, dan  politik.

B.                 Perdamaian Agama Melalui Jalan Dialog
Seluruh agama dunia saat ini harus menyadari peran sertanya untuk perdamaian dunia. Seseorang tidak perlu sering mengulang alasan tersebut. Karena Kung telah menemukan bertambahnya penerimaan di seluruh dunia tidak  ada perdamaian antar bangsa tanpa perdamaian antar agama. Intinya tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian agama[5].
Keterlibatan konstruktif dengan agama lain di dunia ini demi perdamaian di dunia sangat penting untuk bertahan hidup. Dalam milenium ketiga, mengikuti contoh dari Eropa, kita seharusnya memiliki ‘ekumeni’  damai yang sangat  berbeda atau kita tidak memiliki ekumeni, sama sekali tidak ada ‘dunia yang berpenghuni’. Pada tahun 1988, foto-foto komputer bagian Bima Sakti  yang  sangat jauh  dari kosmos jaraknya lima  belas  milyar  tahun cahaya.  Dengan ukuran alam  semesta yang  luar  biasa  dan penilaian manusia yang  terlalu  tinggi  tentang dirinya  sendiri, Tuhan alam  semesta dan evolusi benar-benar tidak  tergantung pada planet kecil kityang  berjalan cepat sepanjang garis  galaksi-galaksi yang mencapai ratusan juta. Sebaliknya, planet ini sangat memerlukan Tuhan alam semesta dan evolusi. Pandangan ini  memaksa kita  untuk menyadari tanggung  jawab sat sam lain  dan   untuk supaya meninggalkan sifakeras  kepala  ketika  berhubungan dengan yang lain. Dan hal ini berlaku secara sentral pada pertanyaan yang mungkin paling  diperselisihkan dalam agama, yaitu pertanyaan tentang  kebenaran.

C.                Dialog Agama Melalui Pengkajian Hingga Dasarnya
Orang Yahudi atau Islam  dapat menulis tentang  Kristen,  dan  orang Kristiani  menulis tentang Yahudi dan  Islam, setidaknya sepantas orang Perancis  dapat menulis tentang  Jerman dan  orang Jerman dapamenulis tentang Perancis. ‘perspektif orang luar’ tentang yang lain seringkali lebih mudah mengenal persoalan dan kesempatan daripada perspektif orang dalam yang  telah  familiar  dengan segala hal.  Secara  ‘pantas’ tidak  berarti secara objektif dan tanpa keterlibatan (hanya  sebagai pengamat belaka), tidak  juga  berarti mengikuti kemauan sendiri  dan tidak objektif (sebagai seorang penganut agama) secara  pantas yaitu dengan komitmen pribadi dan khususnya dengan kepentingan tertentu terhadapersoalan tersebut.

D.      Etika Global dan Pluralisme[6]
Kuliah umum tentang Pluralism as A Global Ethic pernah disampaikan Kung di Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (27 April 2010). Ia berhasil mengajak audiens untuk lebih memahami apa itu etika global dan pluralisme. Karyanya yang berjudul Islam: Past Present and Future cukup membuat orang lupa bahwa ia seorang Kristen. It’s so amazing and interesting. Sebagaimana pengakuannya, buku ini dibuat dalam rangka menanggapi kasus kartun pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW, melalui diskusi seimbang dan gagasan konstruktif. Kung secara tegas menolak ide ”benturan peradaban” Huntington karena menurutnya yang mesti dikedepankan adalah dialog demi tercapainya keharmonisan antar peradaban.
Hans Kung merupakan sosok post-orientalis yang diharapkan mampu menjembatani hubungan Islam dan Barat, yang tak bisa dipungkiri sarat dengan kecurigaan. Ketika orientalisme muncul, Barat memang begitu bergairah mengkaji dunia Timur (termasuk Islam di dalamnya), namun sayangnya tanpa dilandasi ketulusan. Kaum orientalis melakukan penelitian tak lebih dari sekadar demi mempermudah kolonialisasi dan imperialisasi terhadap dunia Islam. Edward Said, Hasan Hanafi, Ziauddin Sardar, dan Nurcholis Madjid termasuk yang tajam dalam mengkritik kiprah kaum orientalis tersebut. Meski demikian, pada akhir abad ke-20 mulai muncul sejumlah pemikir Barat yang berusaha memandang dan menampilkan Islam dengan wajah ramah dan teduh, bahkan mereka tak segan-segan ”membela” saat Islam didiskreditkan. Mereka itulah yang kemudian dikenal sebagai kaum post-orientalis, yang di antaranya adalah Karen Armstrong, John Esposito, Huston Smith, dan Hans Kung.
Kung memang dikenal sebagai teolog yang cinta perdamaian dan persahabatan agama-agama manusia. Sebagai seorang yang memiliki andil besar dalam ”Forum Parlemen Agama-agama Dunia” di Chicago pada tahun 1993, yang dihadiri sekitar 6.000 partisipan, Kung berhasil membuat draf yang diberi judul Declaration Toward A Global Ethic. Kung memberikan orasi ilmiah dalam parlemen tersebut yang inti gagasannya seputar perdamaian diabadikan dalam torehan tinta sejarah sebagai karya pemikiran manusia brilian: ”Tak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian antaragama, tak ada perdamaian antaragama tanpa dialog antaragama, dan tak ada dialog antaragama tanpa mengkaji fondasi agama-agama.”
Dalam deklarasi universal etika global terdapat beberapa prinsip pokok yang melandasi pentingnya perdamaian dunia yang dibangun secara kultural oleh peranan umat beragama. Misalnya, deklarasi itu harus bisa diakses oleh kepentingan semua agama, dan kepentingan yang ada harus berpedoman pada dasar-dasar humanisasi. Kung amat menekankan pentingnya penerapan the golden rule atau yang dikenal sebagai etika timbal-balik (ethic of reciprocity), yang berbunyi: ”Berbuatlah kepada orang lain, sebagaimana Anda ingin orang lain berbuat kepada Anda. Jangan berbuat kepada orang lain, sebagaimana Anda tidak ingin orang lain berbuat kepada Anda.” Jalan tengah Saat menjadi juru bicara perdamaian, Kung tidak hanya mewakili umat Kristen. Menurutnya, setiap kekuatan yang mendorong ke arah perdamaian harus dipandang bermanfaat bagi humanisme global.
Oleh karenanya, kekuatan tersebut tidak berhak dimiliki secara komunal oleh agama tertentu. Akibatnya, Kung diklaim sebagian kalangan sebagai penjunjung pluralisme. Namun, perlu digarisbawahi bahwa pada dasarnya Kung mendukung pluralisme yang proporsional. Ia mengatakan, ”Saya mencoba jalan tengah yang sulit diantara dua ekstrem. Di satu sisi, saya ingin menghindari absolutisme naif, yang mengabsolutkan satu kebenaran dari kebenaran yang lain. Namun, pada saat yang sama, sebagai teolog Kristen, saya juga tak mengharapkan dari siapa pun relativisme dangkal yang merelatifkan semua kebenaran dan menyamaratakannya. Rasanya hal ini tidak bisa dipertahankan, sebuah pluralisme asal-asalan yang tidak membedakan agamanya sendiri maupun agama lain.” Perjuangan ini bukan tanpa risiko. seringkali ia memperoleh perlawanan dari kalangan konservatif. Bahkan, pernah diusir dari tempatnya mengajar ke Universitas Tubingen. Ini menunjukkan bahwa seorang yang menyeru perdamaian ternyata tak selalu memperoleh dukungan positif dari lingkungan sekitarnya.




BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1.      Etika global merupakan sebuah langkah serius dalam mewujudkan perdamaian dunia melalui jalan dialog antar agama dengan mengedepankan nilai-nilai inklusifisme.
2.      Ide tentang the golden rule harus betul-betul terinternalisasi dan menjadi sebuah landasan bersama yang disepakati oleh seluruh Negara-negara dunia.
3.      Declaration Toward A Global Ethic yang digagas oleh Hans Kung harus terimplementasi secara global dan praktis serta diberikan payung hukum yang kuat, sehingga bukan sekedar menjadi  simbol tanpa penerapan yang nyata.









DAFTAR PUSTAKA
Anthony Giddens, Runaway World – Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001).

Bagir, Zainal Abidin. Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim. Program Studi  Agama  dan  Lintas Budaya (Center  for Religious  and  Cross-cultural Studies/CRCS) Sekolah  Pascasarjana, Universitas  Gadjah Mada

John Stott, Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1996).

Trias Kuncahyono, Jerusalem–Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008.

Tulisan Hans Küng di pengantar buku “Chistianity & World Religion (2002), Orbis Books, Markinol  New York.

www. Kompasiana.com,muhammadanis, etika global dan pluralisme kung. diunggah 18 Juni 2010







[1] Anthony Giddens, Runaway World – Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001), hlm 7.
[2] John Stott, Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1996), hlm 192.
[3] Trias Kuncahyono, Jerusalem–Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008),257.
[4] Bagir, Zainal Abidin. Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim. Program Studi  Agama  dan  Lintas Budaya (Center  for Religious  and  Cross-cultural Studies/CRCS) Sekolah  Pascasarjana, Universitas  Gadjah Mada

[5] Tulisan Hans Küng di pengantar buku “Chistianity & World Religion (2002), Orbis Books, Markinol  New York.

[6] www. Kompasiana.com,muhammadanis, etika global dan pluralisme kung. diunggah 18 Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar