ETIKA
GLOBAL; JALAN DIALOG MENUJU PERDAMAIAN DUNIA
(Tela’ah
Atas Pemikiran Hans Kung)
A.
Latar
Belakang
Sekarang ini fakta
mengenai konflik, peperangan, diskriminasi dan ketidakdamaian masih menjadi isu
utama yang dibicarakan oleh berbagai macam pihak. Fakta ini dibahas,
diperdebatkan, dan didengungkan oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat, baik
itu pemerintah, aktifis sosial, pemuka agama, bahkan kaum miskin dan
orang-orang yang bahkan minim pendidikan secara formal. Perbincangan ini
terjadi karena dampak dari konflik dirasakan oleh hampir seluruh ciptaan, dalam
hal ini manusia, hewan, dan tumbuhan.
Globalisasi mengambil
peran dalam kehidupan manusia. Masyarakat didorong untuk masuk kedalam tatanan global
yang tidak dipahami sepenuhnya oleh siapapun tetapi dampaknya dapat dirasakan
oleh bumi dan seluruh penghuninya. Globalisasi merupakan fenomena “disini”,
yang mempengaruhi aspek-aspek kehidupan manusia yang intim dan pribadi.[1]
Konflik, peperangan,
dan kekerasan yang muncul dengan berbagai macam bentuk merugikan dan
menyedihkan. Dan sejauh ini hanya menambah penderitaan bagi semua ciptaan yang
tinggal di bumi. Dalam dua Perang Dunia kira-kira 600 juta manusia tewas[2].
Konflik Israel-Palestina yang belum terselesaikan walau sudah memakan banyak
korban[3],
dan di Indonesia peristiwa konflik Ambon dimana orang-orang Islam berhadapan
dengan orang-orang Kristen menimbulkan korban yang cukup banyak.
Dalam setiap
kehidupan masyarakat, terdapat orang yang berusaha berusaha berbuat kebaikan
dan menjauhi kejahatan. Orang tidak hanya selalu mengikuti keinginannya begitu
saja, akan tetapi juga mengetahui yang baik dan yang jahat. Akan tetapi terdapat
kesulitan dari kehidupan demokratik pada masyarakat plural, jika tidak
diperoleh konsensus bersama. Setidaknya untuk memungkinkan kelompok minoritas
turut menyumbangkan perannya dalam kehidupan bersama. Maka dari itu dibutuhkan nilai,
norma dan sikap bersama agar manusia bisa hidup bersama secara harmonis.
Untuk mencapai tujuan
mulia itu diperlukan koalisi antara Yang Percaya (believers) dan Yang Tidak Percaya (non-believers). Bahkan diantara orang-orang yang kini cenderung menolak
agama, ternyata masih hidup secara bermoral karena memiliki tanggung jawab bagi
mereka sendiri dan juga bagi dunia.
Karena
itu orang harus dibebaskan untuk memiliki atau menolak agama dan harus ada
koalisi minimum antara Yang Percaya dan Yang Tidak Percaya kepada Tuhan untuk
bisa hidup bersama secara damai.
Maka dari itu, tujuan dari makalah ini yaitu berupaya
menjelaskan konsep etika global dalam upaya menciptakan perdamaian dunia
melalui jalan dialog antar agama.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kebangkitan
Agama
Pada tahun 1980an,
tidak lama setelah Revolusi Iran terjadi, bahasa yang kerap dipakai untuk menyebut kebangkitan agama di ruang publik adalah fundamentalisme. Agama bukan saja hadir di ruang publik, namun juga efektif dalam peristiwa-peristiwa sosial politik.
Pluralisme merupakan persoalan bagaimana
upaya akomodasi agama-agama di ruang publik
dirumuskan dengan
tetap mempertahankan keragaman itu tanpa berusaha menyeragamkannya, ataupun meminggirkannya ke ruang privat.
Fundamentalisme adalah satu wajah saja dari banyak wajah agama yang tampil di
ruang
publik. Maka fundamentalisme mungkin
bukan lawan dari pluralisme melainkan satu kenyataan yang tak bisa ditolak yang
menjadi bagian dari keragaman itu[4].
Kesadaran akan kenyataan sosiologis kebangkitan agama-agama inilah yang mendasari tesis Samuel Huntington yang
amat terkenal
mengenai benturan peradaban. Disaat Huntington meramalkan benturan,
Kung percaya bahwa dialog
bisa
terjadi dan
mencari jalan untuk itu.
Dengan pernyataan termasyhur
yang mengaitkan dialog
antaragama dengan perdamaian itu, Kung menjadi salah satu ikon dialog. Selain dikenal sebagai sarjana pengkaji agama-agama, Kung juga penggiat perjumpaan antar agama melalui dialog. Lebih jauh, ia menggagas etika global yang diharapkan menyatukan
(bukan menyeragamkan) agama-agama melalui keprihatinan bersama. Dengan ini, dialog bukanlah persoalan teologis
semata, tapi sudah merambah dan
terlibat penuh dalam persoalan-persoalan sosial, ekonomi, politik
dunia.
Etika global yang digagas Kung lahir karena ada
tanggungjawab global
yang
diemban agama-agama. Perhatian Kung pada hubungan
antaragama dan pentingnya dialog sebagai modus perjumpaan antaragama, maupun pemosisian agama dalam konteks
luas kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.
B.
Perdamaian
Agama Melalui Jalan Dialog
Seluruh agama dunia saat ini harus menyadari peran
sertanya untuk perdamaian dunia. Seseorang tidak
perlu sering mengulang alasan tersebut. Karena Kung telah
menemukan bertambahnya penerimaan di seluruh dunia tidak ada perdamaian antar bangsa tanpa perdamaian
antar agama. Intinya tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian agama[5].
Keterlibatan konstruktif dengan agama lain di dunia ini demi perdamaian di dunia
sangat penting untuk bertahan hidup. Dalam milenium ketiga, mengikuti contoh dari Eropa,
kita
seharusnya memiliki
‘ekumeni’ damai yang sangat berbeda
atau kita tidak memiliki ekumeni, sama sekali tidak ada ‘dunia yang berpenghuni’. Pada tahun 1988, foto-foto komputer
bagian Bima Sakti
yang sangat jauh dari kosmos jaraknya lima belas milyar tahun cahaya. Dengan ukuran alam semesta yang luar biasa dan penilaian manusia
yang terlalu tinggi tentang dirinya sendiri, Tuhan alam semesta dan evolusi benar-benar tidak tergantung pada planet kecil kita yang berjalan cepat sepanjang garis
galaksi-galaksi yang mencapai ratusan juta. Sebaliknya, planet
ini sangat memerlukan
Tuhan alam semesta dan
evolusi. Pandangan ini memaksa kita untuk menyadari tanggung jawab satu
sama lain
dan
untuk supaya meninggalkan sifat
keras kepala ketika
berhubungan dengan yang lain. Dan hal ini berlaku secara
sentral pada pertanyaan yang mungkin paling diperselisihkan dalam agama, yaitu pertanyaan tentang kebenaran.
C.
Dialog
Agama Melalui Pengkajian Hingga Dasarnya
Orang Yahudi atau Islam dapat menulis
tentang Kristen, dan
orang Kristiani menulis tentang Yahudi dan Islam,
setidaknya sepantas orang Perancis dapat menulis tentang Jerman dan
orang Jerman dapat
menulis tentang
Perancis. ‘perspektif orang luar’ tentang yang lain seringkali lebih mudah mengenal
persoalan dan kesempatan daripada perspektif orang dalam yang telah familiar
dengan segala
hal. Secara ‘pantas’ tidak berarti secara objektif dan
tanpa keterlibatan (hanya sebagai pengamat belaka),
tidak juga berarti mengikuti
kemauan sendiri dan tidak objektif (sebagai seorang penganut agama)
secara pantas yaitu dengan komitmen
pribadi dan khususnya dengan kepentingan tertentu terhadap persoalan tersebut.
D. Etika
Global dan Pluralisme[6]
Kuliah
umum tentang Pluralism as A Global Ethic
pernah disampaikan Kung di Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (27
April 2010). Ia berhasil mengajak audiens untuk lebih memahami apa itu etika
global dan pluralisme. Karyanya yang berjudul Islam: Past Present and Future cukup membuat orang lupa bahwa ia
seorang Kristen. It’s so amazing and
interesting. Sebagaimana pengakuannya, buku ini dibuat dalam rangka
menanggapi kasus kartun pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW, melalui diskusi
seimbang dan gagasan konstruktif. Kung secara tegas menolak ide ”benturan
peradaban” Huntington karena menurutnya yang mesti dikedepankan adalah dialog
demi tercapainya keharmonisan antar peradaban.
Hans
Kung merupakan sosok post-orientalis yang diharapkan mampu menjembatani
hubungan Islam dan Barat, yang tak bisa dipungkiri sarat dengan kecurigaan.
Ketika orientalisme muncul, Barat memang begitu bergairah mengkaji dunia Timur
(termasuk Islam di dalamnya), namun sayangnya tanpa dilandasi ketulusan. Kaum orientalis
melakukan penelitian tak lebih dari sekadar demi mempermudah kolonialisasi dan
imperialisasi terhadap dunia Islam. Edward Said, Hasan Hanafi, Ziauddin Sardar,
dan Nurcholis Madjid termasuk yang tajam dalam mengkritik kiprah kaum
orientalis tersebut. Meski demikian, pada akhir abad ke-20 mulai muncul
sejumlah pemikir Barat yang berusaha memandang dan menampilkan Islam dengan
wajah ramah dan teduh, bahkan mereka tak segan-segan ”membela” saat Islam
didiskreditkan. Mereka itulah yang kemudian dikenal sebagai kaum
post-orientalis, yang di antaranya adalah Karen Armstrong, John Esposito,
Huston Smith, dan Hans Kung.
Kung
memang dikenal sebagai teolog yang cinta perdamaian dan persahabatan
agama-agama manusia. Sebagai seorang yang memiliki andil besar dalam ”Forum
Parlemen Agama-agama Dunia” di Chicago pada tahun 1993, yang dihadiri sekitar
6.000 partisipan, Kung berhasil membuat draf yang diberi judul Declaration Toward A Global Ethic. Kung
memberikan orasi ilmiah dalam parlemen tersebut yang inti gagasannya seputar
perdamaian diabadikan dalam torehan tinta sejarah sebagai karya pemikiran
manusia brilian: ”Tak ada perdamaian
dunia tanpa perdamaian antaragama, tak ada perdamaian antaragama tanpa dialog
antaragama, dan tak ada dialog antaragama tanpa mengkaji fondasi agama-agama.”
Dalam
deklarasi universal etika global terdapat beberapa prinsip pokok yang melandasi
pentingnya perdamaian dunia yang dibangun secara kultural oleh peranan umat
beragama. Misalnya, deklarasi itu harus bisa diakses oleh kepentingan semua
agama, dan kepentingan yang ada harus berpedoman pada dasar-dasar humanisasi.
Kung amat menekankan pentingnya penerapan the
golden rule atau yang dikenal sebagai etika timbal-balik (ethic of reciprocity), yang berbunyi:
”Berbuatlah kepada orang lain, sebagaimana Anda ingin orang lain berbuat kepada
Anda. Jangan berbuat kepada orang lain, sebagaimana Anda tidak ingin orang lain
berbuat kepada Anda.” Jalan tengah Saat menjadi juru bicara perdamaian, Kung tidak
hanya mewakili umat Kristen. Menurutnya, setiap kekuatan yang mendorong ke arah
perdamaian harus dipandang bermanfaat bagi humanisme global.
Oleh
karenanya, kekuatan tersebut tidak berhak dimiliki secara komunal oleh agama
tertentu. Akibatnya, Kung diklaim sebagian kalangan sebagai penjunjung pluralisme.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa pada dasarnya Kung mendukung pluralisme yang
proporsional. Ia mengatakan, ”Saya mencoba jalan tengah yang sulit diantara dua
ekstrem. Di satu sisi, saya ingin menghindari absolutisme naif, yang
mengabsolutkan satu kebenaran dari kebenaran yang lain. Namun, pada saat yang
sama, sebagai teolog Kristen, saya juga tak mengharapkan dari siapa pun
relativisme dangkal yang merelatifkan semua kebenaran dan menyamaratakannya.
Rasanya hal ini tidak bisa dipertahankan, sebuah pluralisme asal-asalan yang
tidak membedakan agamanya sendiri maupun agama lain.” Perjuangan ini bukan
tanpa risiko. seringkali ia memperoleh perlawanan dari kalangan konservatif.
Bahkan, pernah diusir dari tempatnya mengajar ke Universitas Tubingen. Ini
menunjukkan bahwa seorang yang menyeru perdamaian ternyata tak selalu
memperoleh dukungan positif dari lingkungan sekitarnya.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan
beberapa hal sebagai berikut :
1.
Etika global
merupakan sebuah langkah serius dalam mewujudkan perdamaian dunia melalui jalan
dialog antar agama dengan mengedepankan nilai-nilai inklusifisme.
2.
Ide tentang the golden
rule harus betul-betul terinternalisasi dan menjadi sebuah landasan bersama
yang disepakati oleh seluruh Negara-negara dunia.
3.
Declaration Toward A Global Ethic yang digagas oleh Hans Kung harus terimplementasi secara
global dan praktis serta diberikan payung hukum yang kuat, sehingga bukan
sekedar menjadi simbol tanpa penerapan
yang nyata.
DAFTAR PUSTAKA
Anthony Giddens, Runaway World – Bagaimana Globalisasi Merombak
Kehidupan Kita (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001).
Bagir,
Zainal Abidin. Jalan Dialog Hans Kung dan
Perspektif Muslim. Program Studi Agama dan Lintas
Budaya (Center for Religious
and Cross-cultural Studies/CRCS) Sekolah
Pascasarjana, Universitas
Gadjah Mada
John Stott, Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani
(Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1996).
Trias Kuncahyono, Jerusalem–Kesucian, Konflik, dan Pengadilan
Akhir (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008.
Tulisan Hans Küng di pengantar buku “Chistianity & World Religion” (2002), Orbis Books, Markinol New York.
www.
Kompasiana.com,muhammadanis,
etika global dan pluralisme kung. diunggah 18
Juni 2010
[1]
Anthony
Giddens, Runaway World – Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita (Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama, 2001), hlm 7.
[2]
John
Stott, Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani (Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih, 1996), hlm 192.
[3]
Trias
Kuncahyono, Jerusalem–Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir (Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, 2008),257.
[4]
Bagir,
Zainal Abidin. Jalan Dialog Hans Kung dan
Perspektif Muslim. Program Studi Agama
dan
Lintas Budaya
(Center for Religious and
Cross-cultural Studies/CRCS) Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada
[5]
Tulisan Hans Küng di pengantar buku “Chistianity & World Religion” (2002), Orbis Books, Markinol New York.
[6]
www. Kompasiana.com,muhammadanis,
etika global dan pluralisme kung.
diunggah 18 Juni 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar